Bersama Mengatasi Kemiskinan 2018.

Hi good people, salam damai sejahtera bagi kita semua.

Kamis, 21 Desember 2017, penulis mendapat kesempatan untuk menghadiri acara diskusi “Indonesia Poverty Outlook 2018”. Diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta.

Penulis tiba pukul 11.00 WIB. 1 jam sebelum acara dimulai. Pada pukul 12.00 WIB kami tamu undangan dipersilahkan menyantap hidangan makan siang yang sudah disiapkan di sisi sebelah belakang ruang aula serbaguna.

Penulis menikmati jamuan makan siang dari penelenggara. Foto dokumen pribadi.

 

Acara dimulai tepat pukul 13.20 WIB setelah makan siang. Peserta tamu undangan yang hadir dipersilahkan berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya.

“Mendorong Infrastruktur Untuk si Miskin: Ikhtiar Program Dompet Dhuafa”

 

Keynote speaker hari ini drg. imam Rulyawan, MARS., Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi membuka rangkaian acara hari ini dengan menjelaskan sedikit mengenai Dompet Dhuafa.

Foto sumber slide presentasi Dompet Dhuafa. 

Melayani , membela kaum dhuafa dan memberdayakan itulah arti logo Dompet Dhuafa yang tampak terlihat seperti 3 jejeran lembing.

Dompet Dhuafa adalah organisasi nirlaba milik masyarakat global yang berusaha untuk pemberdayaan sosial global. Filosofi filantropi Islam seperti zakat, infaq/sadaqa, waqaf, dan dana halal berasal dari donor individu, kelompok atau korporasi.

Peter F. Drucker berkata, “Tidak ada negara terbelakang, yang ada itu adalah negara yang tidak dikelola dengan baik. Apalagi bila tidak mengelola zakat“. Bener juga nih. hayo siapa yang masih belum menyisihkan sebagian dari pendapatannya yuk mulai dari sekarang kita sisihkan untuk membantu mereka yang memerlukan. Allah sudah memberi untuk kita menjadi berkat, mengapa tidak kita teruskan kepada mereka.

Pemberian zakat banyak dilakukan umat karena agama mendidik. Hal ini membantu ekonomi, kebutuhan kesehatan, pendidikan, dan nilai kebudayaan kita yaitu bangsa yang gotong royong.

Dengan berzakat di Dompet Dhuafa, kita bisa dapat PKP.

Didirikan pada bulan Juli 1993, saat ini memiliki kantor perwakilan di 5 negara yaitu Hongkong, Australia, Jepang, Amerika Serikat, dan Korea selatan.

Dompet Dhuafa juga memperluas jaringannya di 21 propinsi di Indonesia. Semua kegiatan dilakukan dengan dukungan 60.000 donor setia yang secara ekonomi mapan, profesional dan berpendidikan.

Kini Dompet Dhuafa sudah berjalan 24 tahun dan bahkan mendapat penghargaan Ramon Magsaysay Awardee 2016.

Dalam kesempatan kali ini ia mengatakan, “Dhompet Dhuafa memiliki konsep di mana setiap program pemberdayaan kami, setidaknya harus bisa menguatkan ekonomi Rumah Tangga dan memperluas akses ke pasar “.

Untuk itulah, Dompet Dhuafa memiliki banyak program terintergrasi di wilayah pedesaan yang dinamakan dengan klaster mandiri. Melalui program ini, ada pemberdayaan masyarakat melalui program kesehatan, pendidikan, agama, dan ekonomi yang terintegrasi. Sehingga masyarakat desa sebagai unit-unit produksi bisa mandiri secara perekonomian.

Pengoptimalan wakaf oleh Dompet Dhuafa di berbagai sektor seperti Rumah sehat terpadu di Parung, Bogor.  RS.AK SRIBHAWONO, Lampung.  RSIA SAYYIDAH, Jakarta Timur, RS Mata Achmad Wardi, Serang, Banten. Kerjasama Dompet Dhuafa dengan BWI seperti Sekolah Alsyukro Universal di Ciputat, Tanggerang Selatan. Khadijah Learning Centre di Tanggerang, Banten.  Kawasan pertanian terpadu, Subang, Jawa Barat. Wakaf laha Gerakan Indonesia Berdaya seluas 80.000m2. Perkembangan agrowisata perkebunan buah naga dan nanas, Cirangkol, Subang. De Fresh  Mart, sebagai Empowerment Store di Jalan Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. yang menjual produk buah, sayur dan beras pemberdayaan dari program Dompet Dhuafa.

Penyediaan infrastruktur pendidikan dan kesehatan secara merata untuk setiap warga negara, termasuk fakir miskin , sebenarnya sudah diamanatkan ddalam kontitusi kita yaitu dalam Pasal 31 dan 34 UUD 1945. Karena itu, sudah selayaknya fasilitas kesehatan dan pendidikan dasar ini tersedia secara merata di 511 Kabupaten kota, 7098 Kecamatan, dan 82.629 desa kelurahan di seluruh negeri.

Kenyataannya, penyediaan infrastruktur kesehatan dan pendidikan dasar belum tersedia secara merata, dan seringkali terdapat fasilitas dengan kualitas yang tidak memadai. Dan ketersediaannya sangat timpang antar daerah. Padahal ketersediaan kedua fasilitas infrastruktur ini penting dalam meningkatkan kualitas modal manusia secara efektif sekaligus memutus rantai kemiskinan.

Pembaca tentu setuju ya, kalau anak bangsa pintar dan sehat, kelak ketika dewasa tentu dapat bekerja bahkan menciptakan lapangan pekerjaan. Bagaimana mau bekerja dan menghasilkan uang untuk biaya hidup sehari-hari dan masa tua, kalau tubuh tidak sehat dan tidak bependidikan? Sementara dengan menjadi berhasil dalam lingkungan, secara langsung itu membantu pertumbuhan perekonomian bangsa bukan?

 

Justru banyak sekali pembangungan infrastruktur yang berkualitas tumbuh di kota besar seperti Jakarta yang dibangun pihak swasta dan untuk keperluan komersil. Yang dibangun oleh pemerintah pun banyak seperti sekolah negeri, puskesmas yang lebih baik. Penulis sangat menyayangkan, mengapa pembangungan fasilitas itu tidak diarahkan dananya ke daerah terpencil dan tertinggal yang benar-benar membutuhkan?

Berkenaan dengan hal tersebut Dompet Dhuafa akan tetap fokus dalam pemberdayaan wilayah desa, terluar termiskin, terbelakang dengan tetap bertumpu pada lima pilar pemberdayaan yaitu kesehatan, pendidikan, ekonomi, budaya dan agama. Dengan menargetkan 100 desa di wilayah Indonesia, menggunakan indikator keberhasilan Desa Development Index (DDI) yang sedang dikembangkan timnya.

Hal ini dapat dilihat dari program pendidikan Diaspora Development yaitu kuliah gratis di luar negeri selama 3-5 tahun, pulang peserta beasiswa sudah dapat membawa tabungan karena sambil kuliah ada program kerja di sana. Ada pula program boarding school untuk siswa siswi Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas hingga masuk Universitas unggulan bahkan hingga meraih gelar dokter spesialis dan Sekolah Menengah Kejuruan. Atau bisa memanfaatkan Institute Kemandirian bagi yang ingin membuka usaha salon sendiri atau servis telepon genggam. Wuah..Dompet Dhuafa sangat baik dan tepat guna ya bantuannya.

Untuk menjawab pertanyaan penulis di atas hari itu, ada 5 narasumber yang akan berbagi sedikit info kendala apa yang kita hadapi saat ini. Berikut pemaparan singkat dari masing-masing pembicara. Untuk lebih detailnya penulis akan memaparkan dalam lain kesempatan.

MC sekaligus moderator kelima narasumber, Venna Annisa, V&V Communication. Mempersilahkan satu persatu narasumber untuk menduduki kursi di panggung diskusi.

“Dampak Pembangunan Infrastruktur terhadap Pengentasan Kemiskinan”.

Pembicara pertama hari itu Dr. Ir.Wismana Adi Suryabrata, MIA, Deputi Menteri PPN/Kepala Bappenas Sarana dan Prasarana. Menjelaskan  pembangunan infrastruktur secara merata adalah kebijakan dari pemerintah kita sebagai upaya menekan kemiskinan dan ketimpangan.

Demikian slide presentasi pembicara yang penulis abadikan: 

Pendapatan Indonesia saat ini masih bergantung pada sektor pertanian, industri dan pariwisata. Permasalah yang ada pada Indonesia mengatasi banjir, khusunya daerah hilir sungai dan pantai di luar kota. target pembangunan infrastruktur 2018

“Review Pembangunan Infrastruktur untuk Si Miskin”. 

Pembicara kedua Bapak Marsudi Nur Wahid, Pemimpin Redaksi Jawa Pos.

Memaparkan pembangunan infrastruktur kebijakan pemerintah sekarang seperti pembangun jalan baru manfaatnya adalah masa depan untuk jangka panjang. Baik, tapi tampaknya tidak menjawab kebutuhan masyarakat miskin lokal di masing-masing wilayah.

Foto dokumentasi penulis dari slide Bapak Marsudi Nur Wahid.

Dengan adanya pabrik yang ditutup di Jakarta akan menciptakan orang-orang miskin baru di Jakarta yaitu para pegawai pabrik yang kena dampak dari penutupan itu.

Untuk pekerja bangunan pun mengalami dampaknya, karena harga bangunan naik, ijin bangunan pun sekarang ada costnya, otomatis membuat upah borongan pun menurun.

Foto dokumentasi penulis dari slide Bapak Marsudi Nur Wahid.

Contoh kasus misalkan ada suatu kejadian seorang kepala desa yang menghitung jumlah raskin untuk kebutuhan warganya 1000 kepala keluarga, ternyata setelah beras datang ke desa, perhitungan salah ada 2000 kepala keluarga yang membutuhkan, semula secara tertulis yang diagendakan 1 liter misalnya untuk 1000 orang dibagi dua menjadi 500ml bagi tiap kepala keluarga sehingga 2000 warganya semua mendapat raskin. Kalau secara manusiawi, tentu pembaca sependapat dengan penulis, hal yang dilakukan kepala desa itu hal pintar dan cepat. Namun kenyataan tidak seindah itu, apa yang dilakukannya dapat dianggap sebagai Korupsi. Karena apa yang tertulis dan fakta di lapangan berbeda.

Hal ini menjadi polemik tersendiri. Tidak dipungkiri, administrasi antar pemerintahan pusat dan daerah ini harus segera diperbaiki kinerjanya. Jangan berbelit dan lama mengurus diskusi dan perijinan. Karena biar bagaimanapun warga setempat benar-benar membutuhkannya. Indonesia harus berbenah dalam masalah ini. Penulis langsung berpikir, bagaimana bila ada bencana? Mungkin perlu kejelasan bila hal-hal ini terjadi bagaimana proseduralnya, kepada siapa harus mengirimkan proposal permintaan bantuan, kontak yang dapat dihubungi dan sebagainya. Dan yang dihubunginpun harus siap 24 jam. Harus punya prinsip 1 nyawa hilang rugi masa depan bangsa.

 

“3 tahun Nawa Cita dan Evaluasi Pembangunan Infrastruktur di Indonesia”.

Pembicara ketiga, Bapak SubrotoRedaktur Pelaksana Republika.

Nawa Cita Pembangunan Infrastruktur adalah :

  1. Menghadirkan negara
  2. Membangun dari pinggir.
  3. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.
  4. Mewujudkan kemandirian ekonomi.

Demikian beberapa slide presentasi diskusi yang berhasil penulis abadikan dari pembicara sebagai gambaran pembaca, bahwa usaha pengentasan kemiskinan melalui pembangunan infrasturuktur  tahun 2018  memang dicanangkan ke berbagai sektor dan wilayah di Indonesia. Kita hanya perlu bersabar untuk mendapatkan manfaatnya kelak setelah berhasil dibangun sesuai target kita bersama.

Mengenai pembangunan ruas rel kereta api pembicara sependapat dengan Bapak Marsudi Nur Wahid, bahwa sayangnya baru pulau Jawa yang menikmati layanan kereta api, di Sumatera meski ada fasilitasnya belum seperti yang ada di pulau Jawa.

Mengambil fakta tentang orang-orang yang tinggal di wilayah perbatasan Indonesia. Kalau ditanya seberapa besar rasa nasionalismenya, sangat memprihatinkan. Mereka justru lebih punya hati ke negara tetangga, bagaimana tidak? negara sendiri dirasakan kurang mengayomi kebutuhan hidupnya. Sementara dari negara tetangga mereka justru mendapatkan nafkah dari pekerjaannya. Seperti ekspor beras di Papua, Bawang Merah di NTT, dan CPO dari Nunukan ke Malaysia. Mengapa bisa begini? kebijakan pemerintah daerah setempat.

Dalam membangun infrastruktur ini ada beberpa kendala, salah satunya yaitu:

  • Pendanaan. Menurut pembicara seandainya pemerintah memberdayakan rakyatnya untuk gotong royong, mungkin masalah ini dapat terselesaikan.  Dana ini bisa dari berbentuk wakaf seperti program Dompet Dhuafa. Semua berpulang kembali kepada keputusan pemerintah.
  • Ketimpangan antarwilayah. Pembangunan tampak hanya terdpat di perkotaan yang dipelosok justru membutuhkan malah banyak terdapat akses jembatan yang rusak.
  • Keterlibatan Swasta. Seperti pembangunan tol Bogor Sukabumi yang proyeknya tidak berjalan hingga kini karena tanahnya dimiliki pihak swasta, harga tanah terlalu mahal untuk negara beli.
  • Dampak Ekonomi Jangka Panjang. Pembangunan dilakukan, tapi sayangnya belum  bisa dirasakan saat ini, dan belum dirasakan kelas bawah, khususnya untuk tenaga kerja sektor konstruksi.

 

“Infrastruktur Desa dan Membangun Indonesia dari Pinggir”.

Pembicara keempat kali ini adalah Prof. Ahmad Erani Yustika, Direktur Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan, kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Namun karena beliau tidak dapat hadir, digantikan oleh Bapak Eko Sri Harjanto, Direktur Pengembangan Ekonomi Desa.

Dari slide pembicara, penulis menyimpulkan keperdulian pembicara untuk mengarahkan pemerintah membangun saran kesehatan yang memadai di pedesaan selain fasilitas pendidikan.

Namun sayangnya lagi-lagi kendala yang ada untuk memenuhi kebutuhan rakyat di pedesaan tersebut adalah kebijakan pemerintah daerah setempat.

 


Semakin tahun semakin bertambah desa yang harus dibantu.

Desa yang mandiri dan berhasil mencari formula untuk memajukan masyarakat desanya dapat dilihat dari seberapa besar melibatkan rakyatnya untuk berdiskusi, hasilnya bisa dilihat dari adanya lapangan pekerjaan baru dan semakin sejahtera rakyatnya.

Sama halnya dengan membangun kawasan indsutri di perkotaan, begitu pula dalam membangun kawasn terpadu di pedesaan. Butuh sinergi agar bisa gerak cepat dan tepat guna.


“Evaluasi dan Prospek Penanggulangan Kemiskinan 2018”.

Pembicara kelima hari itu, Yusuf Wibisono, Direktur IDEAS. 

Mengacu pada data statistik  yang dirangkum oleh IDEAS, kinerja penanggulangan kemiskinan nasional mengalami pasang surut dalam dekade terakhir. Dengan menempatkan perubahan jumlah penduduk miskin sebagai sarana kebijakan, tampak terlihat bahwa kinerja perekonomian nasioan semakin menurun. Hal ini bisa dilihat dari data yang ada, pada periode Maret 2011 – September 2014 penduduk miskin berkurang 327.000 orang per semester. Sementara pada periode September 2014 – Maret 2017 penduduk miskin berkurang hanya 85.000 orang per semester.


Pada 2,5 tahun pertama pemerintahan Jokowi, penduduk miskin dipedesaan turun 274.000 jiwa, sedangkan dinperkotaan justru meningkat 317.000 jiwa. Namun pada periode September 2014 – Maret 2017 ini, kedalaman dan keparahan tingkat kemiskinan di pedesaan justru meningkat signifikan, masing-masing 10,7% dan 17,5 %. Kebijakan ekonomi Jokowi menunjukan anomali, cenderung bias ke penduduk miskin pedesaan, namun membuat kondisi pedesaan semakin buruk.

Dari data yang ada, kantong kemiskinan dengan kepadatan penduduk miskin dan tingginya biaya hidup minimum di dominasi justru oleh kota-kota besar. Seperti di Medan dan Palembang, di pulau Sumatera. Bekasi, Tanggerang dan Surabaya di pulau Jawa. Hal ini menunjukan pembangunan di kota tersebut gagal menghasilkan pertumbuhan yang inklusif.

Infrastruktur buat si miskin di pedesaan dan daerah terpencil itu sebenarnya apa sih yang diperlukan? Rumah dengan sanitasi yang layak, ketersediaan air bersih, selain pendidikan, dan akses yang memudahkan mereka keluar masuk wilayah desa ke desa terdekat maupun ke pusat kabupaten.

Kesimpulan penulis :

Baik narasumber maupun tamu undangan sepakat bahwa pengentasan kemiskinan itu dimulai dari pendidikan dan kesehatan yang ditunjang oleh fasilitas infrastuktur yang memadai.

Peran ini tidak saja bergantung pada sinergi kebijakan pemerintah pusat dan daerah pada khususnya. Tetapi juga diperlukan ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten di lapangan. Seperti perhitungan biaya dan kebutuhan warga desa yang akurat, agar bantuan yang diupayakannya tidak dianggap sebagai penyelewengan (korupsi).   Penulis berpendapat, andai saja ada kebijakan win-win solution yang lebih flexible mungkin perubahan akan lebih signifikan.

Untuk dapat mengentaskan kemiskinan yang berdaya tepat guna sasaran, ada baiknya diskusi melibatkan warga setempat  baik pria dan wanita, karena merekalah yang benar-benar membutuhkan, tahu apa yang mereka butuhkan dan solusi dari masalah yang mereka hadapi. Misalkan dibutuhkan pembangunan infrastruktur jembatan sebagai akses, namun yang diberikan misalkan alat bajak atau sebaiknya. Sudah tentu membuang anggaran biaya percuma.

Dengan adanya pemerintah sekarang menggiatkan pemasukan dari pajak untuk pembangunan infrastruktur, menurut penulis ini baik untuk membangun masyarakat Indonesia yang sadar pajak dan jujur. Namun kenyataannya seolah membuat investor swasta lokal dan asing enggan menanamkan modalnya untuk membantu pembangunan infrasturktur tersebut. Imbasnya pun ke perekomian kita dapat dirasakan. Perputaran uang semakin sulit. Banyak orang kehilangan pekerjaan karena banyak sektor pekerjaan yang tutup. Mulai dari ekpedisi hingga restaurant. Hal ini terjadi bukan karena digantikan dengan sistem elektronik seperti bandara International yang terdapat di negara tetangga yang sudah lebih maju fasilitasnya. Dimana mendaftarkan bording pass  dan screening passport bisa dilakukan secara mandiri dengan mesin.  Harga semua naik, daya beli masyarakat berkurang.

 

————————————888————————————–

Demikian artikel ini dibuat semoga bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih penulis ucapkan untuk penyelenggara acara drg. Imam Rulyawan, MARS., Direktur tama Dompet Dhuafa Filantropi, beserta tim  yang bertugas pada hari acara atas undangan dan jamuannya hari ini.

Foto dokumen penulis

Terima kasih kepada para narasumber yang saya hormati, atas ilmu yang dibagikan kepada penulis :

  1. Dr.Ir. Rachmat Mardiana, MA, Direktur Energi, Telekomunikasi dan Informatika, Kementrian PPN/Bappenas.
  2. Bapak Marsudi Nur Wahid, Pemimpin Redaksi Jawa Pos.
  3. Bapak Subroto, Redaktur Pelaksan Republika.
  4. Bapak Eko Sri Harjanto, Direktur Pengembangan Ekonomi Desa, Kementrian Desa, Pembangunan Dearah Tertinggal dan Transmigrasi. dan
  5. Bapak Yusuf Wibisono, Direktur Ideas

Terima kasih kepada teman- teman media dan blogger yang hadir untuk keceriaannya. Sampai kita bertemu kembali di lain kesempatan. Mohon maaf bila ada kekurangan.

Ikuti Instagram @dompet_dhuafa, Twitter @Dompet_Dhuafa.

Penulis artikel : Belinda Meilani P Kusumo

Nomer Handphone : +6281519401688

Twitter : @BelindaKusumo

Instagram : @belindagosal

 

4 Comments Add yours

  1. jessmite berkata:

    Sebenernya kalau bisa lebih universal Dompet Dhuafa bisa menjangkau kalangan yang lebih luas lagi

    Suka

    1. belinda888kusumo berkata:

      Kita doakan semoga oneday soon Pemerintah kita melalyi Departemen terkait, bersama Yayasan2 juga Komunitas2 perduli sosial bisa sinergi dan dapat formula terbaik solusi mengentaskan kemiskinan. Amin.

      Suka

  2. Penjelasannya sangat panjang dan lengkap, saya seperti ikut sendiri acaranya

    Suka

    1. belinda888kusumo berkata:

      Hi Bun, salam kenal, semoga suatu hari kita kesempatan bertemu di suatu acara ya. Kalau saya tidak mengenali jangan sungkan tegur ya, kadang saya lupa nama jadi malu. tapi saya mudah mengenali dan mengingat wajah.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s