Dia Yang Kusayang

Setiap orang pasti punya seseorang yang disayang selain orang tua kandung. Begitupun saya. Saya pun paling sayang dengan sosok orang ini. Mau tahu tidak siapa sih dia yang ku maksud? Dia itu suamiku. Martin namanya.

Saya dan suami terkasih. Foto dokumen pribadi.

Mengapa saya paling sayang dia?

Semua pasti beranggapan ahh wajar bisa begitu menyayangi suami sendiri. Wong dia kepala keluarga, pencari nafkah dan tulang punggung keluarga. Tapi bukan itu latar belakang mengapa saya bisa begitu menyayangi dia.  Saya paling sayang dia karena memang dia yang terbaik buat saya. Dia harta terindah dari surga. Yang Allah kirimkan dan beri buat saya.

Mengetahui kisah hidupnya dari kecil hingga sebelum bertemu saya. Saya bangga dengan pilihannya dalam menata langkah hidupnya. Sosok yang mandiri dan pekerja keras. Itulah yang membuat kepribadiannya terbentuk dan layak untuk dijadikan pendamping hidup saya.

Pada umumnya wanita lebih punya kecenderungan untuk konsumtif. Suami saya ini orangnya sederhana sekali. Meski saya penikmat fashion, tapi saya bukan tipe yang konsumtif. Bersama dia, saya justru lebih bisa menahan diri untuk memenuhi keinginan saya berbelanja benda yang belum saya benar-benar butuhkan. Tetapi justru semua apa yang pernah saya pikirkan, justru dipenuhinya tanpa saya harus merengek dan meminta-minta. Dia selalu tahu apa yang kubutuhkan dan apa yang pantas buatku. Dan selalu tahu bagaimana membuat tertawa.

Dia itu orangnya rapih dan penata yang ringkas. Darinya saya belajar menata ruangan menjadi lebih indah dipandang. Selalu berpikir positif. Perilakunya ini dapat menenangkan saya yang terkadang khawatir akan sesuatu hal. Bersama dia saya bisa mendiskusikan hal apapun, tanpa nada tinggi dan tanpa berakhir dengan keributan. Sosoknya yang kharismatik. Membuat orang enggan beradu argumentasi di hadapannya. Pembawa damai, itu julukan kami dalam keluarga untuknya. Di mana saja dia ada, pasti ada kedamaian. Teduh banget berada dekatnya.

Dalam keluarga saya ada 3 family man, yaitu ayah saya, adik saya dan satunya lagi sudah tentu suami saya. Sejak anak saya dalam kandungan, dia benar- suami dan ayah siaga. Siap, antar  dan jaga. Dimulai dari periksa kehamilan, hadir di ruang bersalin, dan bahkan sampai putri semata wayang kami tumbuh menjadi anak usia pra remaja pun kegitan pengasuhan kami lakukan bersama dan tidak jarang bergantian peran. Dia tidak pernah merasa pekerjaan itu adalah khusus tanggung jawab saya pribadi selaku istri dan ibu. Selalu ringan tangan membantu atau mengambil bagian tanpa diminta. Bagaimana saya tidak jatuh hati padanya?

Ilmu padi  dan kasih itu ajarannya yang selalu melekat kepada saya.

Hobinya mengambil foto secara candid dari smartphone, ketika saya dan putri semata wayang kami melakukan sesuatu. Membuat kami punya kenang-kenangan kebersamaan kami. Ada yang lucu tampilannya. Tapi disitulah keunikannya. Ada sesuatu yang bisa kami tertawakan bersama. Selain foto-foto indah yang layang dipajang. Tapi sayangnya kamera smartphone belum bisa menangkap gambar secara cepat. Perlu waktu untuk kamera siap mengambil gambar setiap kali selesai mengambil gambar pertama. Belum lagi hasilnya tentu tidak sebaik dengan hasil jepretan dari kamera.

Hadiah yang paling cocok buatnya adalah Kamera. http://www.elevenia.co.id/ctg-laptop-notebook-1

Mengapa saya pilihkan dia hadiah ini?

Mengetahui hasil survei bahwa tingkat stress bagi orang yang tinggal diperkotaan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Keadaan itu dimulai dari pagi hari berangkat kerja, jalanan yang dilalui sudah macet, beban pekerjaan dan kebutuhan ekonomi yang tidak berimbang dengan pemasukan.

Saya yakin hadiah itu akan cocok untuknya. Dengan kamera ini saya berharap bukan saja sekedar menunjang pekerjaannya dan hobinya mengambil foto. Ini bisa juga untuk sarana hiburan baginya, di saat me- timenya. Untuk refreshing dari hiruk pikuk kota dan sekedar melepas lelah dari beban pekerjaannya. Saya yakin bila didukung niat untuk belajar secara profesional. Melalui kameranya nanti, akan ada karya-karya yang dapat dihasilkan dan menjadi prestasi baginya. Apalagi bila kami saling memotivasi dan mendukung.

Manusia tidak ada yang sempurna. Terlepas dari ketidaksempurnaan itu, dia selalu membuat saya bahagia. Kali ini saya berharap, semoga saya dapat memberikan sesuatu yang akan berguna baginya dan akan membuatnya bahagia. Membuat semua yang melihat hasil jepretannya bersyukur atas nikmat Tuhan, dapat menginspirasi banyak orang, bahkan mengerakan hal  orang banyak mengubah yang negatif menjadi yang positif, amin.

Inilah Cerita Hepi ku. Tulisan artikel ini sedang diikut sertakan dalam Lomba Blog Berhadiah yang diadakan oleh Elevania.

Eflyer Lomba Blog Elevania
E-flyer Pengumuman Lomba Blog Elevania. Foto sumber dari kompetisiindonesia.com
—————000—————

Mrs.Belinda Kusumo

Hp: 081286061506

Twitter : @BelindaKusumo

Instagram : belindagosal

E-mail : belindakusumo@gmail.com

Iklan

4 Comments Add yours

  1. Maria Soraya berkata:

    family man yg selalu meneduhkan ? terlihat dari wajahnya ya mbak belinda 🙂

    insya allah jodoh dunia akhirat ya mbak, good luck untuk lombanya

    Suka

    1. belinda888kusumo berkata:

      Amin. Terima kasih untuk doa dan supportnya. Peluk dari jauh. Doa yang terbaik buat keluarga Mba di sana.

      Suka

  2. Aih romantisnya. Semoga terwujud ya keinginan membeli kamera untuk suami tercinta 🙂

    Suka

    1. belinda888kusumo berkata:

      Terima Kasih Mba Alida.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s