365 Stories Digital Storytelling Network 

Hai semua. Salam sehat dan damai sejahtera.

Hari Kamis kemarin saya berkesempatan memenuhi undangan dari @america untuk menjadi voter bagi 12 finalis storytelling dan menentukan nasib kemenangan 4 dari mereka. Berasa lagi jadi Demi Moore dalam film the Juror.

Sesuai kesepakatan kami akan berkumpul di titik kumpul jam 11.00 -11.30 WIB. Di tempat mangkal Grab bike di luar stasiun Sudirman. Pukul 9.45 WIB tepat saya sudah siap berangkat melalui Stasiun Klender Baru menuju stasiun transit Manggarai dan kemudian berganti kereta menuju Stasiun Sudirman. Setibanya di sana teman dari komunitas Bunda Listrya sudah tiba ditempat, yeepy. Sambil memasang mata elang memantau kira-kira ada tempat sarapan tidak ya disekitar situ. Saya menyambung tali silahturahmi. Berdasarkan informasi yang saya dapat darinya, akhirnya saya mengambil keputusan makan bubur ayam yang ada terdekat area. Sambil menunggu teman-teman lain tiba di tempat. Setelah sarapan bubur saya segera ke lokasi titik temu bertemu teman-teman lain dari SJM (Sekolah Jurnalis Multimedia). Undangan kali ini kami dapat dari Bang Ginting. Yang sebenarnya ternyata ditujukan untuk umur maximal 30 tahun. Info ini didapatnya sehari sebelum acara. Bersyukur Bang Ginting membagikan informasi ini kepada Ibu Hida teman dari komunitas kami Wajah Bunda Indonesia.

Acara ini diadakan di @america lantai 3 Pasific Place Mal. Dari pukul 13.30 – 16.00 WIB.

Semula kami diinfokan bahwa pada acara kali ini kami akan mempelajari bagaimana memberengin berita hoax dalam media. Ternyata zonk, beda dari tema awal pemirsah. Tapi bukan Belinda namanya kalau tidak menjaga tetap dalam keadaan inner peace dan tetap positif. Saya dalam setiap kesempatan sebelum pergi keluar rumah selalu percaya, pasti kalau Tuhan ijinkan saya ada di manapun saya mungkin bisa berada itu ada maksud Tuhan yang baik. Selalu melihat ada segi positif dari sisi yang tampak negatif sekalipun. Jadi meskipun sedikit kecewa pada awalnya, saya belajar segera menepis rasa itu. Dan segera fokus pada acara. Saya yakin pasti ada sisi ilmu apa yang akan saya dapat, dari waktu kedepan saya selama ada di tempat ini.

Sebelum memasuki tempat acara. Foto milik Penulis.

Tampak muka tempat ini tadinya saya kira kok remang-remang mirip mau masuk tempat kareoke, hehehe… Tapi lihat dinding sebelah luar kanan dugaan saya berubah menjadi tempat belajar Bahasa Inggris di mall pada umumnya. Begitu masuk, kita akan berjalan melalui lorong sempit. Kemudian tiba di tempat pemeriksaan pertama.  Ada security check machine seperti mau masuk bandara gitu serius lagi ngeceknya.  Seorang petugas memegang pentungan metal detector memeriksa tubuh kami. Sementara tas kami lewat mesin pengecekan.  Kemudian kami diarahkan untuk menyimpan tas kami di locker transparan yang bisa dibuka dua arah (ini saya ketahui ketika keluar dari lokasi acara, mmm pikir-pikir buata apa ya tadi dari sisi kita datang locker itu dikunci tapi kalau kita keluar sisi seberang lockernya terbuka. Tidak save dong berarti? Aku kurang setuju, mau protes tapi sudah telat baru sadar di rumah hehehe) setelah menyimpan tas diloker, kami melalui tempat pemeriksaan kedua. Tambah serius nih pengamanannya jadi penasaran ada apa sih di dalam (kepo to the max). Kami hanya diperkenankan membawa notebook, bolpen, dompet dan hp. Tidak boleh bawa minuman kedalam. Waduh saya kan mudah haus. Sayang tadi tidak kepikiran foto prosesi lamaran ini.. eh kok lamaran.. hehehe.

Ruangan ini bebas dari makanan dan minuman. Bersih dan indah ya. Foto milik Penulis.

Begitu sudah masuk di dalam, kesan pertama saya suka..design interiornya. Pasti yang kerja di sini betah banget nih. Staf disana asyik banget working ettirenya, santai seperti mau masuk kampus atau ngemall gitu. Ingin hati foto-foto area di dalam, tapi berhubung acara mau segera dimulai, yah akhirnya selfie aja sekali. Lagipula leih baik segera menempati tempat duduk modis lah ya ;).

Ceritanya lagi menyeberang jalan NY yang sibuk. Foto milik Penulis.

Pas masuk ke hal eh Dj pasang lagu 80’s I Can’t Go For That nya Hall & Oates, joget nyanyi bahagia cantik lah saya, hehehe. Staf pertama, Dita kalau tidak salah namanya membuka sesi acara dengan menjelaskan apa itu @america.

Saya bersama Miss Dita setelah acara berakhir. Fito milik Penulis.

Rupanya @america adalah pusat kebudayaan Amerika Kedutaan Besar A.S. yang terletak di Jakarta, Indonesia. Misi mereka yaitu menyediakan ruang bagi kaum muda Indonesia untuk mempelajari lebih dalam lagi tentang Amerika Serikat dan berbagi gagasan mengenai beragam isu yang diminati baik oleh masyarakat Amerika maupun Indonesia.

Semua acaranya bebas biaya dan terbuka untuk umum, meliputi berbagai topik seperti pendidikan, lingkungan, musik dan seni, sains dan teknologi, serta kewirausahaan.
Di @america,  kita dapat menyaksikan teknologi canggih dan mempelajari lebih dalam tentang Amerika Serikat. Melalui diskusi, webchat, penampilan, debat, lokakarya, dan pameran, Anda dapat menikmati yang terbaik dari Amerika—idealisme, kreativitas, dan keragamannya. 

 

Jadi kalau ada mom and dad yang mau sekolahin anaknya kuliah di Amerika boleh datang kesini buat tanya-tanya, Free biaya konsultasi loh. Diskusikan dengan petugas EducationUSA, tidak perlu membuat janji temu terlebih dahulu dan bebas biaya untuk mempelajari bagaimana cara meraih gelar pendidikan Anda di Amerika. Buat anak-anak sekolah SD bisa kesini setiap Sabtu untuk bicara dengan native speaker. Dita menjelaskan setiap hari Kamis akan keluar acara 1 minggu ke depan.

@america buka 7 hari sepekan, Minggu – Jumat mulai pukul 13:00 sampai 21:00 dan Sabtu mulai pukul 10:00 sampai 21:00. Bebas biaya masuk.

Jam buka @america. Foto milik Penulis.

Kemudian disambung kata sambutan Mrs. Sarah Z, staf dari Kedutaan Amerika (kalau tidak salah) menjelaskan beberapa audiences yang hadir dan menggunakan kaos 360 itu adalah para finalis dari lomba video yang diadakan oleh lembaga ini. Oh ya dari pertama memasuki area ini sudah kerasa aura kudu berbahasa Inggris. Dalam hati, “Untung bisa lima bahasa” cie cie…

Mrs Sarah Z from USA Embassy. Photo source of writer.

Kemudian disambung kata sambutan Mrs. Sarah Z, staf dari Kedutaan Amerika (kalau tidak salah) menjelaskan beberapa audiences yang hadir dan menggunakan kaos 365 itu adalah para finalis dari lomba video yang diadakan oleh lembaga ini. Oh ya dari pertama memasuki area ini sudah kerasa aura kudu berbahasa Inggris. Dalam hati, “Untung bisa lima bahasa” cie cie…

12 finalis kontes menggunakan kaos 365. Foto milik Penulis.

Ada 4 kategori yang dilombakan. Yaitu topik Women & Children Stories, Nature Stories, Diversity Stories dan Democary Stories. Masing-masing kategori ada 3 finalis.

Ipad alat voting dan aplikasi voting Menti. Foto milik Penulis.

Oh iya, namanya era digital dan multimedia, kita dipinjamkan ipad Untuk voting dan melakukan voting melalui http://www.menti.com. Keren. 

Saya sedikit kesusahan menentukan pilihan saya pada setiap kategori, karena semua bagus dan penting banget. Tapi sudah tugas saya mengeksekusi tiap kategori. Hanya ada satu finalis yang bisa saya pilih. Yang sesuai narasi dan tampilan videonya. Pesannya sampai dan mengena dan ada kemungkinan mengubah dunia. Untuk yang tidak saya pilih jangan kecil hati ya.. Kalian sudah menjadi 12 besar itu bagi saya kalian sudah jadi pemenangnya.

Keempat Pemenang Kontes. Foto milik Penulis.

Kategori pertama Women & Children stories, berhasil dimenangkan oleh Muhammad Arif Munadar dengan judul video ”The girl and the dream catcher”. Untuk kategori topik pertama ini saya vote storrytelling video yang pertama. Karena saya melihat dedikasi mereka berempat dan perjalanan yang mereka tempuh itu cukup keras.  Tapi sayang pilihan saya tidak menang.

3 cerita kategori Woman & Childrens story. Foto milik Penulis.

Kategori kedua dimenangkan oleh Fanny Fandana dengan judul video “Sungai Kapuas”. Dalam kategori ini saya memilih Storytellng pertama, karena menurut saya narasi yang ditampilkan Fanny cocok dengan gambarnya. Storrytelling ketiga yang juga mengangkat tentang Sungai Kapuas sudah baik narasinya namun tidak disertai video yang memperlihatkan kotornya air Sungai Kapuas namun tetap dipergunakan orang sekitar… Untuk storytelling kedua, sebenarnya topik yang dia utarakan itu topik yang penting kalau kita mau perangi pemanasan global dan mau mengembalikan oksigen seperti dulu meski butuh waktu lama tapi menjaga kelestarian hutan memang bisa membantu. Menurut saya storytelling kedua dalam kategori ini narasinya sudah baik. Namun kurang menyentuh dari segi gambar dan durasi videonya terlalu pendek.

3 video kategori Nature Stories. Foto milik Penulis.

Kategori ketiga dimenangkan oleh Muhammad Hunafatul Ichsan dengan judul Greysacle.

Penenang kategori ketiga: Diversity Stories. Foto milik Penulis.

Kategori keempat dimenangkan oleh Dewi Sapitri dengan judul video “Bakomo”.  Entah karena si cendol yang menjadi magnet atau tidak. Tapi video Dewi menunjukan bukti bahwa demokrasi itu sudah ada dari dulu di Indonesia. Tradisi suku Dayak dengan nama Bakomo adalah tradisi demokrasi yang patut ditiru. Mereka membicarakan setiap hal dengan kekeluargaan. Setiap warga yang hadir dalam rapat bisa mengemukakkan pendapatnya. Pendapat itu ditampung kemudian didiskusikan bersama. Tidak ada yang emosi dengan nada tinggi hingga menimbulkan pertengkaran sengit.  Dan dalam rapat ini mereka mengadakan es cendol dan beberapa makanan yang hanya dapat disentuh bila sudah dicapai kata mufakat. Ternyata ya si cendol ini dapat menyatukan perbedaan pendapat.

3 video kategori keempat: Democracy Stories. Foto milik Penulis.

Kesimpulan dari perjalanan saya hari ini :

1. Lihat sekitar kita, ada banyak isu yang bisa kita angkat untuk diceritakan.

2. Jadilah kreatif dalam menuangkan ide dan pendapatmu.

3. Sorot dari sudut yang berbeda dan unik.

4. Belajar dan berprestasi itu tidak ada batasan umur. Sesuaikan dengan perkembangan jaman.  Era digital menuntut kita bisa menjadi pencerita bukan saja lisan tapi bisa dengan visual. Yang belum bisa seerti saya melihat adik-adik ini pasti tertantang untuk segera belajar. Semangat.

Merchandise & University List Catalog. Photo courtessy of mine.

Selamat berkarya. Semoga anak muda yang membaca ini semakin termotivasi.  Sharing ini bermanfaat.

(Belinda Kusumo)

Iklan

2 Comments Add yours

  1. dinamars berkata:

    aku baru dua kali ke at america, tapi nagih nih pengen ke sana lagi, walaupun pengamanannya lumayan ketat kayak masuk bandara. Tapi kalau kita haus kita boleh keluar ke tempat penyimanan tas koq, Mbak, untuk minum. Kalau mau keluar sebentar ke toilet atau jajan juga nggak papa tanpa perlu mengambil tas lagi :).

    Suka

    1. belinda888kusumo berkata:

      Iya,hehehe tapi sudah pasti aku yang mudah haus juga mudah beseran. Kalu minum, pasti deh bulak balik area. Jadi pilihanku tidak minum waktu itu. daripada ngompol. Memalukann eui.. hahaha. Emang menyenangkan tempat ini ya. Aku juga suka. Mudah2an besok kl kesana kita bisa barengan. Atau bertemu di lain acara ya. Sehat2 sampai kita bertemu.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s