Bagaimana mengatasi konflik dengan anak kita? 

E-flyer Parenting Class of Kinderfield Primary School.

Hai Ayah dan Bunda. Salam sehat dan sejahtera.

Kemarin saya berkesempatan untuk menghadiri kelas pengasuhan anak yang diadakan di sekolah anak saya dan saya ingin berbagi ilmu yang saya dapat di sana. Tidak sedikit orang tua yang mengalami kesulitan berkomunikasi dengan putra atau putrinya baik yang usia pra sekolah hingga yang beranjak remaja. Sama halnya kita mungkin dapat mengalami hambatan dalam komunikas dengan orang tua kita semasa kita kecil bahkan hingga mereka sekarang menjadi kakek dan nenek dari anak kita.

Saya datang tepat pukul 08.30 WIB, segera mengambil foto dengan banner di loby dan menaiki lift menuju lantai tiga, tempat acara akan digelar. Melakukan registrasi, menerima bingkisan kenangan dan box makanan kecil. Segera saya mencari posisi tempat duduk yang strategis dekat dengan layar monitor dan mudah akses keluar masuk.

Pembicara hari ini membuka presentasi. Foto sumber PSG Kinderfield Duren Sawit.

Segera saya mempelajari keterangan yang mungkin saya dapat dari isi bingkisan yang mungkin akan jadi masukan bahan pertanyaaan saya nanti. Setelah menentukan posisi duduk, saya diundang beberapa panitia acara untuk mengambil kudapan dan teh atau kopi di meja yang sudah disediakan.

Dari atas kiri & kanan: snack mungil yang lezat. Foto bawah: Meja Stand BRI salah satu spinsor hari ini dan meja teh kopi yamg disediakan Panitia. Foto milik Penulis.

Tepat pukul 09.03 WIB acara dimulai. Ibu Yulia  Idriati S.Sos pembicara hari itu membuka dengan menceritakan sedikit tentang Yayasan Keluarga Kita. Yayasan non provit yang didirikan sejak tahun 2012. Bekerjasama dengan para orangtua, bertujuan membantu orang tua yang membutuhkan dan anggota keluarga lain baik yang tinggal serumah maupun tidak untuk bekerjasama dalam penerapan pola asuh anak agar sama dan konsisten demi kebaikan bersama.

Ibu Fia, Ibu Yulia dan Saya. Sesaat sebelum acara dimulai. Foto milik Penulis.

Menjadi ibu-ayah, suami-istri, nenek-kakek, adik-kakak, mertua-menantu, tetangga-teman sekolah dan kantor, adalah bagian besar dari hari-hari kita. Beragam peran, bertumpuk beban, namun sepanjang hayat kita akan terikat dan terlibat jalinan keluarga dan relasi sosial. Keterlibatan kita dalam  pengasuhan anak dan pendidikan keluarga adalah perjalanan personal yang sangat emosional, tetapi juga pengalaman sosial yang penuh interaksi dan tanggungjawab.

Kebiasaan yang baik dari dalam rumah, akan terbawa ke luar rumah ketika kita berinteraksi dengan orang lain.

Masalah sekecil apapun harus segera diselesaikan. Tidak ada masalah yang dapat selesai sendiri, yang ada malah semakin menumpuk.  Dalam pola pengasuhan anak, penting sekali pesan yang disampaikan kepada anak itu selalu konsisten begitu juga penerapannya. Anak yang terbiasa konsisten akan menjadi anak yang berperilaku baik. Jangan sampai anak menerima konsep yang berbeda dari tiap anggota keluarganya.

Setiap anggota keluarga perlu terus belajar. Dalam hal ini Yayasan Keluarga Kita membuat 3 kurikulum utama yang perlu dipahami orangtua untuk mencapai tujuan pengasuhan. Yaitu :

  1. Disiplin Positif
  2. Hubungan Reflektif dan
  3. Belajar Efektif.

Sebelum kita berbicara tentang 3 hal tersebut diatas perlu diketahui 4 salah kaprah yang umum terjadi seputar hubungan sosial.

Slide 1 sesi kelas pengasuhan. Sumber: Keluarga Kita. Foto milik Penulis.

Dalam Salah Kaprah 1: Bahkan hubungan suami istri yang kompak dan harmonis pun tetap harus dijaga. Begitu juga relasi kita dengan teman, jangan karena sudah merasa cocok, tidak sering bertemu atau tidak menjaga komunikasi via telepon dianggap tidak masalah, justru bila tidak ada komunikasi, hubungan akan merenggang bahkan bisa mati. Jadi perlu kegiatan yang dilakukan periodik, misalkan setiap hari menelepon si anak dari tempat kerja, sebulan sekali kumpul keluarga makan bersama atau bertemu dengan teman.

Slide ke2 sesi kelas pengasuhan Keluarga Kita. Foto milik Penulis.

Salah Kaprah 2: Contoh ilustrasi istri yang lelah ditanya oleh suaminya sepulang kerja tidak menjawab karena dia sendiri tidak bisa menyimpulkan apa yang membuat dia bingung, marah dan frustrasi. Padahal kalau dijawab, masalah dapat diatasi bersama segera. Ternyata masalah utamanya istri yang lelah perlu “me time” (waktu hiburan bagi dirinya) dan atau sekedar butuh dibantu, tapi enggan meminta bantuan suami, akhirnya menyalahkan dan uring-uringan kepada suami yang juga sudah lelah dari tempat bekerja dan baru saja tiba di rumah. Masalah komunikasi ini akan menimbulkan masalah-masalah yang baru yang timbul dari masalah kecil.

Suami : “ Ma, mama capek ya?”

Istri : Menjawab dengan ogah-ogahan “ Mmm”

Suami : “ Mama marah dengan perkataan Papa yang tadi yang ini kah (asumsi suami pertama) …?

Istri : “ Bukan”

Suami : “ Yang ini..(asumsi suami yang kedua)?”

Istri : “Bukan”

Suami : Terus yang mana dong yang membuat mama terusik, beritahu saya.

Istri : “Kalau kamu suamiku harusnya kamu tahu”.

Salah Kaprah 3 : Contoh ilustrasi seorang nenek yang tidak setuju pola pendisiplinan menantu wanitanya, berbicara dengan suaminya. Sang kakek, hanya menenangkan istrinya dengan cara ini :  “Sudahlah bu, itu kan anak mereka, mereka yang lebih tahu anak mereka dan biarkan itu menjadi hak mereka dalam mengasuh”.

Sering kali di sini timbul isu atau pandangan yang berbeda satu dengan yang lain. Apa yang keluarga kita anggap tidak masalah bisa jadi pandangan di keluarga orang lain itu bermasalah atau sebaliknya. Sebagai contoh penggunaan smartphone, bagi orang tua si A merasa anaknya sudah dibekali tidak perlu khawatir sementara buat orang tua anak B, pemberian smartphone itu masih terlalu dini bila anak belum berumur di atas 12 tahun.

Menggunakan celana pendek jeans keluar rumah itu tabu bagi orang tua A sementara bagi orang tua B tidak. Si A yang melihat sepupunya masuk ke tabloid dengan keadaan seperti itu tentu akan membahas dengan orangtuanya. Ibu si anak A, karena merasa kurang dekat dengan orangtua si anak B, merasa enggan memberitahu, khawatir bila Ia memberitahu tentang hal ini dan pandangan keluarga mereka akan dianggap mencampuri urusan orang lain dan dapat merusak tali persaudaraan, akhirnya melakukan pembiaran dan memilih tidak terlibat.  Padahal kalau mau diambil positifnya, orang tua A bila diberitahu mengenai hal ini harusnya bersyukur ada anggota keluarga besar lain yang perduli dan membantu menjadi jaring pengaman anak kita atau belum tentu reaksinya marah dicampuri urusan keluarganya. Selama info yang diberikan ini pesannya sampai dan penyampainya pun baik.

Salah Kaprah 4 : akan membuat si anak lebih dekat kepada “ Si Baik” dan menjauh bahkan membenci  “Si Jahat”. Ini sangat tidak sehat bagi si anak dan pelaku peran si Jahat. Suami dan istri selaku orang tua si anak harusnya memiliki kesepaktan dan sama penerapan pola asuhnya.

Salah Kaprah Seputar Hubungan. Sumber flyer Keluarga Kita. Foto milik Penulis.

Dalam interaksi sosial ada 4 hal yang tidak dapat kita kontrol tetapi dapat mempengaruhi hubungan, yaitu :

Slide ke 5 sesi kelas pengasuhan dari Keluarga Kita. Fotomilik Penulis.

Hal yang tidak dapat kita kontrol, tapi mempengaruhi hubungan keluarga dan sosial. Sumber flyer lipat Keluarga Kita. Foto milik Penulis.

Pola pengasuhan masa lalu. Contoh ilustrasi seorang suami yang terbiasa mandiri dan besar dalam lingkungan mandiri akan berbeda dengan istri yang besar di keluarga yang memiliki 3-4 orang PRT dan terbiasa dibantu mengerjakan pekerjaannya. Saat menikah akan memungkinkan si suami tidak akan mengeluarkan dana untuk membayar jasa PRT, karena baginya pulang kerja dia dapat menyingsingkan lengan kemeja dan mengambil bagian untuk mencuci baju atau bangun pagi membersihkan halaman baginya biasa. Bisa  dikerjakan sendiri dan adalah pemborosan menyisihkan dana untuk mengambil jasa PRT, lebih baik dana dialokasikan ke skala prioritas lainnya.

Berbeda bagi si istri yang terbiasa tinggal bangun semua sudah tersedia. Dalam hal ini perlu adaptasi bagi kedua pihak agar bisa menyesuaikan ritme satu dengan yang lain dan bisa menyepakati hal yang penting bagi keluarga mereka. Sang istri belajar mengambil perannya sebagai istri sekaligus ibu, meski tidak ada tuntutan dari suami sekalipun tetap  harus terbiasa mengerjakan pekerjaan rumahnya. Hal ini akan mengurangi konflik yang mungkin timbul dikemudian hari.

Keunikan Temperamen Bawaan dari lahir. Bagaimana kita meresponi sesuatu hal diluar diri kita itu sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak kita bayi.  Sebenarnya sifat bawaan ini bisa dikelola menjadi karakter yang baik lewat pendidikan atau pengasuhan yang tepat. Contoh ilustrasi kasus: ada  5 orang teman yang makan mie ayam bersama, salah satunya menemukan rambut dalam mienya. Reaksi yang timbul pasti ada kemungkinan berbeda. Anak pertama bisa saja marah, anak kedua menanggapinya dengan santai, buang rambut dan kembali makan. Anak ketiga reaskinya tidak mau makan, tidak marah tapi seumur hidunya tidak akan pernah makan mie ayam lagi. Kita yang melihat reaksi anak pertama yang marah-marah bila kita tipe anak kedua tentu akan menganggap reaksi anak pertama berlebihan, padahal kalau ditilik kemudian dari sisi positif, tipe anak pertama itu tipe persisten. Bila dia dibantu mengelola marahnya dia akan menjadi anak yang akan mengejar sampai tujuannya tercapai. Tidak mudah menjadi anak yang menyerah diperlakukan tidak baik.

Hubungan sosial pergaulan dan dunia luar. Dengan mengasah kemampuan anak sedari dini untuk menilai reaksi orang lain, anak-anak akan tahu bagaimana meresponi orang lain yang baik saat dia dewasa nanti.

Perubahan jaman. Mau ada teknologi baru apapun di kemudian hari, kita harus mengontrol hubungan sosial kita.

Orang tua yang mempunyai anak lebih dari satu, wajib mengenali anak pertama dan lainnya yang sudah tentu berbeda satu dengan yang lain. Kita secara pribadi wajib mengenali temperamen kita dan orang di sekitar kita. Dengan memahami adanya   9 Kontinum Temperamen, kita bisa mempengaruhi cara kita bereaksi dan meresponi sesuatu hal.

Anak yang slow starter, bila ingin dibawa ke sebuah pesta ulang tahun anak teman kita atau arisan keluarga besar, ada baiknya dipersiapkan terlebih dahulu, diceritakan nantinya disana akan ada banyak orang yang belum dia kenal atau pernah dia temui, akan ada musik atau suara anak lain yang mungkin membuat dia tidak nyaman, tapi beritahu si anak, kalau kita akan selalu ada mendampingi dia. Bila sudah diberi informasi ini, usahakan datang lebih dulu.

Istri yang mudah lapar dan akan menjadi pemarah bila terlambat makan, ada baiknya suami menghadapi istri seperti ini usahakan ajak makan dulu sebelum membicarakan hal penting atau memberi instruksi kepada si istri.

Manajemen Waktu.

Masyarakat yang tinggal di kota besar umumnya punya isu mengenai manajemen waktu, untuk pergi ke tempat kerja atau sekedar mengantar anak. Akan berbeda dengan masyarakat yang tinggal di kota kecil atau pedesaan yang tempat kerjanya yaitu ladang  atau kantornya dekat hanya dipekarangan belakang rumah misalnya.

Bagaimana  kita tahu bahwa waktu kita untuk anak itu sudah cukup atau kurang?

Kita harus sensitif sama kebutuhan masing-masing anak yang berbeda.  Dalam hal ini penting bagi orang tua untuk mengetahui tahap perkembangan anak terlebih dahulu. Dengan mengetahui orang tua akan tahu mengapa anak bereaksi sesuatu dan tahu meresponinya dengan tepat.

Usia 0-2 tahun adalah masa anak butuh dibantu untuk membangun kepercayaannya pada dunia, bahwa dunia itu aman. 3-5 tahun adalah masa anak bermain dan ekplorasi. Anak 6-12 tahun adalah waktunya orang tua membantu si anak mencapai target belajarnya.

Sementara anak remaja, adalah masa anak sudah tidak membutuhkan kedekatan kita seperti masa usia 0-2 tahun lagi. Sering masalah timbul ketika salah satu orang tua bekerja sudah mendedikasikan waktunya untuk berhenti dari pekerjaan demi dekat dengan anak, tapi yang mereka hadapi ank usia remaja yang sudah tidak butuh kedekatan yang intens dengan kita lagi.

Manajemen Waktu. Sumber flyer lipat Keluarga Kita. Foto milik Penulis.

Penting untuk diingat : Saat berinteraksi dengan anak, usahakan kita memberikan dengan setulus hati.  Anak bisa merasa saat kita bersamanya itu kita terpaksa atau tidak. Kita sebagai orangtuanyalah yang tahu kapan me time kita sudah terlalu banyak atau bahkan kekurangan. Jangan terpaksa melayani anak saat kita kelelahan. Anak perlu tahu saat yang tepat kita berbagi waktu kita. Namun jangan lambat meresponi mereka.

“Tidak ada kualitas tanpa kuantitas (intesistas)”.

Usahakan baik ibu atau ayah, mempunyai satu kegiatan rutin yang dilakukankan kepada masing-masing anaknya. Misalkan ayah membiasakan sarapan pagi dengan anak saat ibu bersiap.

Sering kali alarm itu timbul dari diri kita, eh saya sudah lama loh tidak hubungi ibu (nenek dari anak kita) atau eh sudah lama loh tidak hubungi teman kita si A. Sama sepertinya alarm rumah, bila kita tidak responi akan mati sendiri karena kehabisan baterai, begitu juga hubungan kita dengan orang lain. Kalau kita diamkan akan renggang dengan sendirinya.

Prioritas manajemen waktu ini, bebas. Tergantung kebutuhan masing-masing. Kita yang bisa alokasikan berapa waktu untuk anak, untuk hobi, keluarga besar. Waktu Untuk Keluarga

Untuk anak, usahakan satu kali seminggu itu ada waktu khusus dengan masing-masing anak. Ijinkan si anak yang menentukan kegiatan apa yang mau dilakukan bersama kita. Misalkan minggu ini pergi ke musium hanya berdua si kk, adik dengan si ayah, minggu depannya bergantian. Mengapa terpisah? Di saat terpisah inilah saat yang tepat kita membangun relasi yang kuat dengan si anak, kita menggali apa yang mengganjal dia, dan bisa gunakan waktu untuk masukin petuah atau tanam hal-hal baik yang mau kita tanam. Khususnya bila baru terjadi konflik kakak dan ade, saat inilah saat yang tepat unutk membuka pikirannya reaksi yang kita harapan dan sebaiknya bisa dia lakukan daripada reaksi yang sudah dia lakukan sebagai bekal anak itu meresponi masalah yang timbul kemudian hari. Ajari anak mengutarakan isi hati atau pendapat pikirannya dengan metode I- Message.

I-Message, Cara Penyampaian Isi Hati yang Baik. Sumber flyer lipat Keluarga Kita. Foto milik Penulis.

Teknik Komunikasi Efektif. Sumber flyer lipat Keluarga Kita. Foto milik Penulis.

Perilaku negatif anak itu sering kali timbul sebenarnya karena kurangnya perhatian. Pada saat si kakak dan adik berkonflik, sering kali salah satu orang tua cenderung segera terlibat. Akibatnya salah satu anak disuruh mengalah (umumnya si kakak) atau merasa demi keadilan dua anak dihukum. Menghadapi kasus demikian, ada baiknya kita tidak terlibat 100%, tugas kita selaku orangtua hanya melihat dari jrak jangkau dan mengarahkan bila diperlukan. Padahal bila konsidinya tidak sampai membahayakan fisik, ada baiknya loh mereka diberi waktu menyelesaikan konflik antara kakak dan adik itu.

Langkah Resolusi Konflik. Sumber flyer lipat Keluarga Kita. Foto milik Penulis.

Ibu, stop membuat keadaan seolah adik itu lebih lemah dan patut dibela. Sikap kita yang salah akan menimbulkan persepsi yang salah dalam pemikiran si kakak bahwa Ibu berpihak sebelah dan tidak mengasihinya. Beri pengertian bila Ibu sedang hamil si anak minta digendong itu yang tidak bisa ibunya,jangan beri pernyataan “Kasian ade bayi” anak akan menangkap kasih Ibu berkurang karena si adik yang akan lahir dan sejak itulah dia akan belajar membeci si adik. Anak usia 1-9 tahun tidak butuh ini. Yang mereka perlukan kasih sayang dan jaminan kasih sayang itu adil.

5 emosi yang umum ada dalam keseharian adalah marah, rasa bersalah, tidak enakan, cemas, dan ingin pengakuan.

Slide ke7 sesi kelas pengasuhan dari Keluarga Kita. Foto milik Penulis.

“Emosi itu harus dikompartemen”

Setiap kita mau marah, perlu kita tahu lebih dulu, mengapa kita marah? Perlu tidak kita kita meresponi masalah itu dengan marah? Karena tidak semua situasi itu perlu diresponi dengan marah. Anak balita yang tantrum, itu wajar, dia belum mengenal dan memiliki bekal mengelola emosinya. Berbeda dengan kita orang dewasa, harus sudah bisa. Untuk itulah anak-anak perlu kita bantu. Mereka perlu contoh nyata bahwa orangtuanya tenang.

Pengelolaan Emosi dan Cara Berkomunikasi Yang Efektif. Sumber flyer lipat Keluarga Kita. Foto milik Penulis.

Contoh ilustrasi : Seorang ibu bekerja ketika menganter anaknya sekolah si anak menangis minta ditemani di kelas. Ibu yang punya rasa bersalah, akan terpaksa menemani. Tapi bila ibu meresponi karena kebutuhan anak, Ia akan memberitahu si anak bahwa di dalam kelas hanya boleh ada Ia dan teman-temannya, Ibu akan menyatakan otoritasnya dan akan negosiasi dengan anak bahwa anak tidak perlu takut, Ia tiadak akan meninggalkan anak dan  Ia akan berada di luar menunggu, dan siap menjemput saatnya nanti. Seorang ibu yang dominan emosi marahnya, tentu akan meresponi dengan sikap marah. “Duh kamu cengeng amat sih, anak lain tidak perlu ditemani” respon seperti ini tanpa kita sadari tidak menjawab kebutuhan si anak. Sebisa mungkin kita harus tenang dan bisa menang dengan edukasi dan bahasa yang tepat. Anak usia pendidikan dini memang butuh rasa aman.

“Anak itu sever terbaik tetapi penerjemah terburuk”

Apa yang kita lakukan akan dia tiru. Karena bagi si anak, itulah yang valid. Kita model percontohan.

Jangan sampai kita selaku orangtua terjebak dalam lingkungan negatif.  Apa yang kita buat terhadap mereka kita tidak merasa itu negatif karena pola asuh kita dahulu. Contoh dahulu kita disabet gesper, anak kita pun kita perlakukan sama. Hal seperti ini harus diputus.

Seringkali kita selaku orang dewasa bisa marah-marah tanpa kita tahu apa sumber kita marah di hari lalu setelah 2 hari kejadian kita mengulas kembali baru kita sadar oh saya kemarin marah itu sebarnya karena kelelahan di tempat kerja. Apalagi anak-anak. Tidak heran tiba-tiba mereka bisa marah. Saat menghadapi keadaan seperti inilah  mereka perlu dibantu untuk mengeluarkan sumbernya. Bila saling mengingat bahwa masing-masing punya emosi bawaan tidak akan timbul konflik baru.

Buat perjanjian tertulis yang disepakti bersama seluruh anggota rumah dan dipajang di suatu area rumah misalkan batasan menonton, tidak boleh ada intonasi tinggi, dan sebagainya.

Contoh lain, anak yang ketinggalan buku tugas, ada orang tua yang selalu balik kerumah dan mengantar bukunya kembali ke sekolah. Tapi ada juga yang mengajarkan anak untuk menerima akibat dari perbuatannya. Orangtua cukup bicara begini “ Mama juga pernah ketinggalan buku, kamu coba bicarakan dengan gurumu, minta maaf dan beritahu tugasmu akan diberikan besok”. Tidak perlu ditambahkan omelan. Cukup kasih refleksi bahwa dia harus belajar menanggung dari kelalaiannya. Hindari Conversation Blocker, hal ini tidak akan efektif. Anak sudah terbebani ketakutan karena kelalainya, tidak perlu ditambahkan rasa bersalah apalagi dicemooh.

“Empati adalah mendengarkan tanpa menyalahkan atau membenarkan”.

Menurut riset dalam 1 hari setiap anak menerima maksimal 100 perintah dari orangtua. Yang kita ingat selaku orangtuanya hanya memberikan 5 perintah. Kalau kita selaku orang tua terlalu sering menggunakan kata perintah (overuse), anak akan mudah untuk tidak mendengarkan. Padahal Perintah ini berguna sekali untuk disaat hal yang “Penting”.  Misalkan pada saat mau pergi acara keluarga besar. Ijinkan si kakak dan adik bernegosiasi, siapa yang duluan mau bersiap sementara salah satunya main games atau nonton. Beri mereka batasan waktu, jam sekian sudah harus rapih ya. Nah bila batasan waktu yang diberikan salah satunya belum mandi, bawa ke kamar mandi. Kesempatan seperti ini adalah kesempatan yang baik untuk si anak Empowering (memberdayakan) dirinya.

Pada saat orangtua beragumentasi dengan anak, umumnya akan saling berbantahan dan ujung-ujungnya yang kalah itu seringnya orangtua. Karena anak akan selalu punya alasan untuk mendapatkan keinginannya. Pada saat ini hindari Marah sebagai strategi kita.

Interaksi Penting dalam Keluarga. Bahkan orangtua yang sudah kompak dan harmonis dengan anakpun perlu tetap mengadakan bermain bersama dan tertawa bersama. Kalau komunikasi dalam keluarga sudah baik, tapi bila tidak ada humor dan ada permainan di rumah masih tidak lengkap. Dengan bermain atau ada saat tertawa bersama pengendalian emosi pun dalam keluarga itu pasti jadi semakin baik.

Dengan bermain pura- pura menjadi dokter misalkan, si anak akan belajar motorik halus dan kasar, akan membentuk pengetahuan kognitifnya semakin berkembang.

Dengan bermain ciluk ba, anak sejak bayi belajar mengelola emosinya saat kehilangan ibu dari pandangan matanya. Ia jadi tahu kehilangan itu hanya sementara, Ia tetap akan aman karena Ibu hanya pergi sesaat.

Dengan ikut Kompetisi atau pertandingan, si anak akan belajar mengapa tidak baik melakukan kecurangan.

Dengan bermain kontak fisik, anak akan belajar mengendalikan diri saat emosi, mengetahui tendangan dan pukulan seperti apa yang membahayakan dirinya dan orang lain.

Jadi orang tua itu bukan berarti serba tahu dan benar. Bahkan jadi orang tua pun kita teap harus belajar bagaimana mengisi tangki cinta angota keluarga kita masing-masing.

5 Cara Mencintai Lebih Baik. Sumber flyer lipat Keluarga Kita. Foto milik Penulis.

Kesimpulan: Kesuksesan atau kegagalan keluarga kita ditentukan oleh seberapa kita teguh menjalankan Prinsip Pengasuhan , seberapa kompeten kita memberdayakan Disiplin Positif, merawat Hubungan Reflektif dan menumbuhkan Belajar Efektif. Kesejahteraan atau ketimpangan negara kita ditentukan oleh seberapa erat kita saling merangkul bukan saja anggota keluarga tapi orang lain di sekitar kita.

Sesi ditutup dengan pengumuman doorprize dari  Tupperwear oleh panitia. Dan sayapun menikmati snack box  yang berisi sosis solo, arem-arem dan sus buah.

Terima kasih PSG (Parents Support Group) Kinderfield Primary School Duren Sawit yang sudah mengadakan materi yang bermanfaat untuk kami pelajari. Acaranya berjalan sempurna. Kudapannya enak dan sambutannya hangat. Pasti lain waktu mau lagi datang ke Parenting Class bila diadakan.

Doorprize hari ini dari Tupperwear. Foto milik Penulis.

Hampers hari ini. Foto milik Penulis.

Semoga liputan ini dapat bermanfaat bagi orangtua yang membacanya.

(Belinda Kusumo)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s