Retail Strategy for E-Commerce Platform

Hi semua, salam sehat dan sejahtera 🙋🏻. 
Menyambung liputan yang lalu, hari ini Belinda mau berbagi liputan hasil belajar di kelas bisnis DBS hari kedua dengan tema “Retail Strategy for E-Commerce Platform” yang diadakan di Estubizi Business Center & Co-Working Space, gedung Graha Tirtadi, lantai 4. Jl. Wolter Monginsidi No.71, Jakarta Selatan.

Narasumber pertama kita hari itu adalah Timothius Martin, Head of Performance and Branding MatahariMall.com.

Saya bersama Timothius Martin. Foto milik pribadi.

E-Commerce for net online shopping itu potensinya 5 -15 tahun kedepan sangat besar. 
Hasil survei Mataharimall.com 2015, banyak alasan orang masih belum mau belanja secara online: 
1. Lebih suka belanja yang barangnya bisa dilihat langsung dan dipegang langsung. Beli handphone yakin itu handphone beneran bukan dummy yang dikirim.

Kurangnya rasa percaya terhadap sistem online. 

2. Ingin barang yang dipesan segera sampai. Ini problem di masyarakat South East Asia termasuk di Indonesia. 

3. Di Indonesia karena negara kepulauan, Mataharimall mengalami kesulitan logistik mengenali alamat pengiriman karena satu kode pos di Indonesia wilayahnya cukup besar. Berbeda dengan Amazon.com di Amerika biar jarak wilayah per kodepos itu besar, transportasi bisa di lakukan via darat dan alamat sudah lebih terperinci. 
Cara apa untuk menangani ini? 
1. Strategi pertama. Omni Channel Marketing.

Kalau kita mau bisnis kita menjangkau lebih banyak orang, kita tidak bisa lagi mengandalkan cara offline tapi harus juga dengan cara online yaitu dari e-mail, mobile aplication,social media dan sebagainya.

Selain itu kita harus sediakan jasa End to end One touch point to convert online offline shoppers. Customer kita harus bisa bayar online, tapi barang bisa dia pick up sendiri selain menunggu barang diantar kealamatnya dan dia juga bisa kembalikan bila barang yang diterimanya ada masalah. 
Mataharimall ada PopBox untuk customer bisa ambil barang dari sana. 
2. Strategy kedua. Performance & Branding Marketing. 

Performance Marketing : menggunakan facebook add,Google adds, social media,outlets, life messenger. 

Branding marketing: bikin event,partnership
Bagaimana dua cara marketing ini bekerja tanpa bertubrukan? Kita harus kasih KPI (perfoma kerja) yang jelas. 

Performance marketing
tugasnya itu harus naikin sales (penjualan) sedangkan Branding itu tugasnya naikin awarness (dikenali banyak orang). 
Performance marketing: waktu pertama kali mulai tentu marketing costnya masih tinggi, revenuenya belum masuk, masih rugi. Tetapi lihat ketika 8 bulan kedepan revenuenya meningkat, cost marketing otomatis menurun. Sebab sudah terbentuk customer trust yang balik belanja terus. Tim disini mikirin gimana cara jualan. 
Branding Marketing : tim disini miikirin gimana cara bikin heboh orang mau belanja di situs mereka. Melalui e-flyer yang unik salah satunya. 
Apa hasilnya dari Performance dan Branding? Melihat efektifitas keberhasilan dan tidaknya cara perfomance dan branding marketing bisnis kita. 

Mataharimall.com mensurvei Transaksi perhari 3 bulan pertama dan 3 bulan terakhir itu konsisten. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan kompetitornya yang sudah lebih dulu ada. Berarti bisa dibilang performance marketingnya sudah berhasil. Berikut juga hasil Branding marketingnya. 
3.Strategi ketiga: Data Driven Marketing. 

Jaman dulu Marketing itu keluarkan dana untuk beriklan di televisi, billboard, selebaran dan flyer tapi tidak bisa dilacak efektif tidaknya. 

Dengan adanya teknologi sekarang dalam e-commerce kita terbantu bisa melihat dalam setiap channel kita pakai misalkan di facebook,Instagram dan google seberapa efektif penjualannya. Contoh yang masuk disalah satu channel kita 100.000 orang tapi penjualannya hanya 21 % tapi di channel lain lebih baik. Kita jadi tahu mau invest dimana. 
Jadi Efektifitas itu bisa dilihat dari: 

1.Revenue (pemasukan) di setiap Channel. 

2. Return On Ad Spend (ROAS) pendapatan dari setiap pengeluaran iklan. 
Di bisnis online,yang kita lihat itu: 

Revenue=Traffic x Conversion x Basket Size. 

Traffic orang masuk pilih barang, conversion itu ketika pertama seseorang memutuskan membeli baju seharga Rp.150.000,- kemudian membeli sepatu seharga Rp.150.000,- sehingga dia check out belanja mengeluarkan uang sebesar Rp.300.000,- di basket size. 
Dengan rumusan ini kita bisa pasang PIC di masing-masing tugas. Divisi Marketing bisa cari cara masukin orang untuk mau mampir, divisi teknologi cari jalan bagaimana tampilan gambar lebih nyata dan menarik, divisi merchandise cari barang pelengkapnya contoh orang cari baju begitu buka baku yang dia sukai ada link gambar berdekatan dengan baju itu celana paduannya. Akhirnya yang tadinya mau beli baju saja jadi beli celana dan sepatu. 
4. Strategy keempat: Win the war for digital tallents. 

Mataharimall.com beruntung tidak ada pekerjanya yang dipekerjakan keluar ke tempat lain. Umumnya 30% pekerja yang diterima kalau difasilitasi ilmu (disekahin) begitu sudah jago sedikit langsung resign (berhenti) pindah ke tempat lain dan langsung minta gaji gila-gilaan. 
Di MatahariMall.com kebanyakan pekerjanya fresh graduate bukan expert bahkan backgroundnya bukan dari Marketing. Mereka lebih mencari pekerja yang punya gairah, rendah hati dan mau belajar bukan yang expert. Passion beats years of experience. 
Seperti staf AddWords & Remarketing Specialistnya yang bernama Fajar, latar belakang pendidikannya Perikanan. Tapi CV nya punya sertifikat marketing yang dia pelajari sendiri sebelum melamar di MatahariMall.com. Ini juga yang menjadi pertimbangan saat itu menarik sekali pelamar ini untuk diterima. Karena punya keinginan belajar yang bukan bidang akademisnya. Fajar sudah 2 tahun bekerja di sana dan sudah 30% berkontribusi dalam pemasukan MatahariMall.com. 

MatahariMall.com hanya punya satu orang Mobile App Soloist,Eliza namanya. Latar belakang pendidikannya itu Keuangan. Berhasil memasukan 65% revenue. Sementara di kompetitornya memiliki mungkin hingga 10 orang. 
5. Strategy kelima: Build The Right Culture. 

Bisnis online harus moderen. Di MatahariMall.com budayanya itu 

Bold : Berani minta maaf daripada minta ijin.

Fast : otomatis kerja 24 jam kalau tidak ada detail tenggang waktunya. 

Fun: fleksible mengatur waktu kerjanya,open culture terbuka untuk memberi ide dan masukan, be impossible menantang pekerjanya untuk bisa bikin keputusan, dan free 
Kreatif: waktu April mob bikin kampanye iklan yang kontroversial “Sewa Pasangan Online Pertama di Infonesia” orang yang semula marah dengan iklan ini jadi penasaran ingin cari tahu apakah ini bisnis prostitusi online tidaknya otomatis akan buka klik iklannya, begitu dia buna baru ketahuan dan jadi tahu iklan itu cuma April Mob dan siapapun yang buka langsung dapat voucher belanja. Idenya itu mendukung anti human trafficking. Strategi ini berhasil membuat traffic mereka di hari itu naik 4x lipat dan hasil penjualan 2x lipat. Hebat ya keberhasilan mereka bukan dari tallent yang expert tapi justru dari tallents yang penasaran, punya keinginan untuk belajar dan ingin tahu lebih banyak. Disini pembuktian bahwa masa depan itu bukan hanya dikuasai oleh yang dibidang tertentu bahkan bisa buat orang yang tidak mengerti sekalipun bisa berhasil. 
Kesimpulan

5 strategi untuk menang di e-commerce:

1.Marketing jangan cuma offline harus online. 

2. Performance dan Branding Marketingnya juga harus dipantau. 

3. Marketing jangan hanya invest uang terus berharap dapat hasil positif tapi harus cek channel mana yang paling banyak menghadilkan pemasukan, baru invest di channel itu. (Jangan salah invest di channel tertentu). 

4. Jangan sampai kehilangan tallents. Menangnya bukan cara uang, karena bila dengan uang akan membuat pekerja kita berpindah tempat. Tapi bikin suasana dan budaya kerja yang bikin mereka berkembang. Mereka akan merasa ada di dalam universitas bukan di dalam kantor.

5. Bangun budaya yang membuat nyaman untuk bekerjasama. 

Timothius Martin narasumber hari ini menutup sharingnya dengan 5 kesimpulan. Foto milik pribadi.
Narasumber kedua hari itu adalah Sayed Muhammad CEO LocalBrand.co.id akan berbagi tentang “Multi-channel selling strategy”.

Saya bersama Sayed Muhammad. Foto milik pribadi.

Saat itu Sayed Muhammad sambil kuliah sudah ambil job untuk bikin website orang. Dimulai dari jaman Kaskus baru ada saat itu, Ia sudah hobi melakukan aktifitas internet dari browsing dan sebagainya juga sudah jadi konsultan website. 

Profile Sayed Muhammad.

Untuk masuk Mandiri Securitas itu kan susah banget ya, rata-rata keterima belerja disana itu IPK harus 3,5 keatas. Kebetulan waktu itu baru Mandiri baru mau launching MOTS (Mandiri Online Training Securitas) waktu itu dipanggil temannya yang bekerja di sana dan ternyata konsepnya untuk website diterima. Akhirnya dia bikin dan masuk bekerja di sana. Diberikesempatan untuk jadi Product Managernya dan diberi kesempatan untuk mengembangkan online tradingnya. 
Di saat yang sama masih bekerja,  Ia juga membuat perusahaan yang diberi nama LocalBrand.co.id. Saat itu tahun 2011, Ia membuat ini karena melihat peluangnya. Saat itu Zalora, Lazada belum ada. Sementara banyak designer lokal di tahun 2010 yang bingung mau jual dimana. Akhirnya timbullah ide untuk mengakomodir kebutuhan mereka lewat LocalBrand.co.id 
Nightmarenya muncul di tahun 2012-2013 kompetitornya mulai  berdatangan seperti Zalora, Lazada, Berrybenka dan pemain baru e-commerce lainnya yang mendapat dukungan dari multi billion dollar investor. Sementara di LocalBrand.co.id saat itu Ia hanya menggunakan modal pribadinya dan belum tahu mengenai konsep investor. 

Sementara dahulu konsep online itu timbul karena pemikiran kalau mau bisnis tanpa mengeluarkan dana lebih untuk membayar model, berjualanlah dengan cara online. 

Dari sini mulainya mereka mencari strategi bagaimana tetap bertahan tanpa mengeluarkan investasi yang cukup besar? 
Pertama barang yang ada diwebsite mereka itu bukan produksi pribadi tapi milik orang lain karya designer. Sementara pendatang baru ini mendekati brand yang sama untuk masuk di situs mereka. 

Ia berpikir bagaimana cara marketing dengan mendatangkan masukan yang besar tapi saya tidak keluar dana yang besar? Akhirnya Ia mensiasatinya dengan cara terobosan gebrakan marketing baru. Dia buat acara Local Fest kreatif festival di tahun 2013 dan menjadi trendsetter adanya bazar di Mall dan mengajak brand yang tergabung di dalam LocalBrand.co.id untuk berjualan secara offline. Dibroadcast eventnya dari cara itu berhasil menjaring 40.000 pengunjung setiap harinya di bazar. Bagi yang datang dan tidak datang pun ada social media awarness.Akhirnya target mereka dapat huge traffic terpenuhi,dapat dua keuntungan secara offline dan online dari website. 
Pemikiran kedua, untuk menambah loyalty dari brand-brand yang ditawarkan migrasi atau ikut berjualan di situs lain bagaimana ya? Solusinya Ia bikin Local Tallent (LT) di tahun 2014. Brand ini kan butuh foto,design logo dan branding. LT membantu kebutuhan itu dan menjadi hubungan makin akrab. 
Mengapa Ia membahas online Multi-Channel ? Karena Multi -Channel membuat berjualan itu semakin mudah. 
Data dari e-commerce di Amerika umumnya baru bisa terjadi di Indonesia setelah 2-3 tahun terjadi di sana. 
Di Amerika itu biasa orang beli produk retail itu di mana sih? Hampir semua orang di sana belanja di Marketplace yaitu Departemen Store meski sudah ada amazon,ebay, webstore dan sejenisnya. 

Where Americans Buying Product? Slide milik Sayed Muhammad.

34% konsumen itu saat ini belanja sedikitnya di 3 channel online dan ofline. 
Didukung dengan akses internet yang cepat saat ini bukan saja tidak mungkin saat belanja offline sambil belanja online. Atau mungkin saja keysearch google lihat di pertama dari MatahariMall.com tapi belinya dari Zalora.

Brand Selling Data. Slide milik Sayed Muhammad.
Hasil researchnya, 51% pebisnis online sudah bermain di 2 Channel atau lebih. Jual di marketplace, website sendiri dan sosial media. 18 %nya hanya fokus di 1 Chanel. 

Dari data ini jelas terlihat trend saat ini rata-rata pebisnis jaman sekarang sedikitnya menaruh peluang di 3 Channel atau lebih (Multi-Channel)

Apa beda Multi-Channel vs Omni Channel? Di pengalamannya. 

Multi Channel vs Omni Channel. Slide milik Sayed Muhammad.
Untuk Multi-Channel orang yang belanja langsung di marketplace,melalui aplikasi dan website belum tentu sama experincenya. Bisa saja di website harga lebih premium di marketplace harga lebih murah.
Untuk Omni Channel contoh Belanja di MatahariMall dan di situs lain serupa harus sama experiencenya. Foto sama, harga sama, packagingnya begitu sampai sama. 

Pertanyaannya apakah di Omni Channel ini lebih baik? Belum tentu, tergantung strategi marketing brand masing-masing. 
Benefit Multi-Channel? 

Benefit Multi Channel. Slide milik Sayed Muhammad.

Revenue (pendapatan) yang menaruh di 3 channel semakin meningkat daripada yang cuma di 1 channel. Brand awarness makin meningkat. 

Bagaimana memaksimalkan Multi-Channel? 

Memaksimalkan Multi-Channel.

1. Relevant Channel. 

Kita harus survei dan tahu produk kita itu apa. Harganya kita itu cocok kita taruh di mana, misalkan kalau harga produk kita lebih laku di MatahariMall.com dengan harga murah jangan taruh di LocalBrand.co.id yang pembelinya rata-rata hanya mau beli barang harga di atas Rp.500.000,- dengan harga yang sama. Mahal belum tentu jelek, murah belum tentu bagus. Atau contoh lain kalau kita jual barang elektronik lakunya di Elevania jangan jual di situs fashion. 
2. Pricing Strategy.

Kita kan berkompetisi dengan ribuan penjual. Tahu berapa marketing cost kita dan discount cost kita. 

3. Photo Product.

Nah bagi yang baru mau masuk di e-commerce, investlah di foto produk. Jangan asal karena jualan online itu media interaksi kita dengan calon pembeli itu foto. Banyak baca tips and trick membuat foto yang baik. Foto yang blur atau mengambil dari orang itu sangat tidak baik. Umumnya calon pembeli akan langsung melaporkan bila Ia melihat foto seperti ini. 
4. Inventory Management System. 

Bagi yang ingin berjualan di banyak channel, jangan sampai orang mau beli produknya tapi stok barang kita habis. Sistem stockist ini udah harus terintegrasi di smua channel ini. Misalkan ada yang beli barang di satu situs misalkan MatahariMall, otomatis ke data produk kita berkurang di Zalora. Jangan sampai orang mau beli tapi barang sudah tidak ada, sementara terdata masih ada. Kita sebagai penjual akan dicap untrusted seller. 
Akhir Februari mendatang LB akan segera melaunching tool untuk pebisnis online baru untuk berjualan di Multi-Channel. Brand hanya perlu upload satu kali foto tinggal push kebanyak situs bisa ke MatahariMall.com, Lazada, Line shop dan sejenisnya. Semua sales dari berbagai macam platform tadi juga langsung kelacak di satu tempat ini. Tidak perlu cek satu-satu lagi lebih mudah. 

One Stop Push Upload. Launching akhir Februari 2017. Slide milik Sayed Muhammad.

Secara ekosistem Indonesia saat ini masih baru memasuki tahap awal Start Up tertinggal 10 tahun jauh dari Amerika belum siap secara futuristik dalam e-commerce. Ini dapat dilihat dari segi pembayaran masih bentuk bank transfer, online payment baru terbentuk di tahun 2014. Dari segi logistik pun TIKI dan JNE belum siap secara e-commerce apalagi futuristik masih tradisional contoh belum bisa distribusikan ternak dan pakan ikan baru ada satu yang bisa. 
Di tahun 2012 LocalBrand.co.id bikin Fashion Show dengan budget dibawah lima juta rupiah. Sudah dapat tempat acara, bisa Cetak majalah dengan model terkenal saat itu di cover majalahnya, bisa dapat make up artis, bisa Undang tamu VIP, dan sediakan makanan buat tamu VIP, semua gratis hanya dengan barter dan jual konsep. 

Di tahun 2013 strategi LocalBrand.co.id segmen pasarnya fokus di anak muda yang ingin gaya dengan dana yang terjangkau Design tidak terlalu old fashion. Harganya tidak lebih dari Rp.500.000,-. 

Kesimpulan kelas hari ini : 

  1. Gunakan networking dan sistem kerjasama untuk menekan biaya marketing. 
  2. Jeli melihat kebutuhan di marketplace kita cari solusinya lebih dulu. 
  3. Tahu produk kita, segmen pasarnya, dan harga yang pantas dan stok barang. 
  4. Kreatif mencari solusi dari setiap hambatan yang datang. 

Semoga liputan ini bermanfaat. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s